Kantor Grade A dari Pengembang Jakarta

0
172
kantor grade A
Sumber: https://properti.kompas.com/read/2018/05/25/060000221/50-persen-pengembang-jakarta-bangun-kantor-grade-a

DPD REI DKI Jakarta melakukan survei terhadap 350 pengembang terkait perkantoran sewa yang mereka kembangkan. Hasil survei mengungkapkan, sebanyak 50 persen pengembang membangun dan menyewakan kantor Grade A. Disusul kantor sewa premium oleh 30 persen pengembang. Dan sisa 20 persen pengembang membangun perkantoran sewa Grade B.

Ruang kantor Grade A adalah perkantoran dengan fasilitas lengkap dan lokasi paling strategis biasanya di kawasan pusat bisnis yang prestisius.

Tipe Grade B memiliki standar fasilitas mirip dengan Kantor Grade A, tetapi lokasinya tidak sestrategis Kantor Grade A. Adapun Grade C adalah ruang kantor yang cukup untuk memenuhi kebutuhan perkantoran dan lokasinya biasanya tidak di pusat bisnis.

Bagus mengatakan saat ini masih akan tersedia bagi penyewa yang menginginkan tarif sewa lebih murah dari Kantor grade A. Sebab saat ini sulit bagi perusahaan untuk berkantor di rumah dengan kendala izin domisili.
Survei tersebut juga melaporkan bahwa harga sewa perkantoran di Jakarta minimal di kisaran Rp 101.000 – Rp 200.000 per meter persegi per bulan. Jadi, misalnya satu perusahaan menyewa area untuk kantornya selama satu tahun, maka harga sewanya paling sedikit Rp 1.212.000 per meter persegi.

Rentang harga sewa perkantoran minimal Rp 101.000 – Rp 200.000 per meter persegi per bulan itu diterapkan oleh 30 persen pengembang. Sementara untuk harga sewa Rp 201.000-Rp 300.000 per meter persegi per bulan dipatok oleh 40 persen pengembang.

Di atasnya lagi, kisaran harga Rp 301.000-Rp 400.000 per meter persegi per bulan dilakukan oleh 20 persen pengembang. Menurut Ketua DPD REI DKI Jakarta Amran Nukman, sebanyak 34 persen pengembang menyatakan tingkat hunian perkantoran yang mereka sewakan lebih dari 34 persen per bulan. “Diikuti 33 persen pengembang yang tingkat hunian asetnya 51 persen-60 persen per bulan,” kata Amran di Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Selebihnya, ada 11 persen pengembang yang mencatat hunian di bawah 40 persen per bulan dan ada pula 11 persen pengembang dengan capaian hunian 41 persen–50 persen per bulan. Soal tempat, 90 persen pengembang memilih Jakarta sebagai lokasi perkantorannya. Di luar itu, hanya Depok yang menjadi pilihan lain, yaitu dikerjakan oleh 10 persen pengembang.

“Terkait service charge, 70 persen pengembang mengenakan biaya Rp 71.000-Rp 90.000 per meter persegi per bulan,” ucap Amran. Selebihnya, ada 10 persen pengembang memasang service charge kurang dari Rp 60.000 per meter persegi per bulan dan 20 persen pengembang  yang mematok biaya lebih Rp 90.000 per meter persegi per bulan. Adapun mengenai biaya pembangunan, mayoritas atau 30 persen pengembang mengeluarkan dana lebih dari Rp 900 miliar, lalu diikuti oleh 40 persen pengembang yang menghabiskan biayanya antara Rp 101 miliar-Rp 500 miliar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here